Categories

Budaya (3) Cerpen (2) Cooking (1) Curhat (29) Curug (1) Famz Story (4) fiktif (3) Film (14) Foto (36) Hiking (30) Indonesia (80) INDONESIA BAGUS (7) Info (111) Islam (3) Jepang (7) Kampus (83) Kartun (1) Kids (2) Komputer (34) Kopdar (1) Korean Fever (14) Listing Program (8) Look Alike (10) Maen (28) Multimedia (9) Musik (3) Muslimah (4) Ramadhan (1) Review (16) SAR (2) Sekedar Tulisan (49) Shout Out (6) SI (53) Situs Bersejarah (2) Team Mandalawangi (1) Trip (33) Tugas (86) Untuk Negeri (76) Video (3) Wisata (11)

Selasa, 22 April 2014

Salak 1 - Jangan Jadikan Ini Sebuah Akhir [Part III]

12 April 2014
Sekitar pukul 19.30 di 2.210 mdpl - Gunung Salak

Kami, para kaum hawa dari kawanan pendaki yang sedang kelaparan, sudah memulai acara masak-memasak untuk menu makan malam ini. Riska dan Irma yang lebih banyak mengambil peran koki, saya dan Tifah bisa jadi hanya sebagai asisten koki yang banyak bicara. Mamduh dan Iqbal yang sudah selesai dengan tenda mereka, ikut nimbrung dengan kawanan ibu-ibu. Bukan! Mereka bukan membantu masak!

Mamduh yang sibuk memeriksa kulit betisnya yang pada akhirnya harus ternoda oleh luka gores dari pepohonan, dan saya yang berganti peran menjadi seorang perawat. Perawat seorang anak kecil yang kakinya terluka.

Kata Tifah saat pendakian Pangrango hampir setahun lalu, “Walaupun lukanya kecil, harus di obatin. Takut infeksi. Kalo udah infeksi, bisa gawat”.



Acara masak-memasak menjadi tidak karuan karena kehadiran 2 makhluk ini, dan ditambah bang Peppy yang mulai terjangkit virus gombal Iqbal. “Kenapa kaum Luth ada di sini sih?”, itu ucapan bang Peppy saat sadar (hanya sekali). ^^

Cukup aku aja yang kamu cuekin, Makanannya mah jangan!!
Karena kaum adam yang semakin lama semakin ramai di area ‘dapur umum’ untuk mencari seonggok kopi hangat, saya, Tifah, dan Irma memilih untuk berganti costum di dalamtenda. Entah berapa lama kami bertiga berada di dalam tenda, tiba-tiba Riska ikut masuk ke tenda, dan mengajak kami makan.

Jeeeeeeeeeeeeeng…!
Saya keluar tenda, dan tidak ada siapa-siapa disana. 
Oke! Riska ternyata masak sendirian, karena para kaum adam sedang mengambil air. Riska pemberani!!!

Kehangatan sop boleh hilang karena kalian tinggal…
Asal jangan kehangatan ini yang ikut hilang bersamaan dengan usainya perjalanan…

Makanan boleh kalian anggurin...
Asal jangan hatiku yang kamu anggurin…
(judul : sop yang tercampakkan)

Maaf, atas sajak saya barusan.Sekali lagi mohon di maafkan…


---- selamat makan malam ----

“Besok jam 6 udah packing ya! Biar mampir ke Kawah Ratu”
“iya bang….”. *Kemudian tertidur pulas*

13 April 2014

Alarm ponsel Iqbal yang SENGAJA DITITIPKAN di tenda wanita sudah mulai berbunyi sejak pukul 3 pagi. Akibatnya, saya dan Tifah sedikit kewalahan untuk mematikan alarm (ponselnya di kunci dan tidak ada pilihan lain selain, “yowes, bangun aja”) secara bergantian. Ponsel yang satu sudah aman, dan sekarang giliran yang satunya yang nyala. Astaga! Rasanya ingin melempar ponsel itu keluar, tapi….. siapa yang akan mengganti? Makan saja saya sulit, boro-boro untuk membeli ponsel.

Sekitar pukul 5.30 pagi
Cahaya dari luar tenda sudah mulai terang, seolah memerintah kami, "Ayo shalaaaaat! Sudah siang, keluaaaarlah kalian semua..!!". Suara butir embun yang jatuh dari dedaunan menjadikan saya merasa disapa lebih hangat oleh puncak salak. Angin pun bisa dibilang tidak terlalu kencang. Matahari yang hanya bisa kami rasakan kehangatannya tanpa melihat kehadirannya dari Puncak Salak. Mungkin kami terlalu lambat untuk mengejar matahari pagi ini.

"Pagi Dinda...."
Kali ini saya merasa DI-DA-HU-LU-I oleh sapaan Mamduh dari dalam tenda pagi ini, biasanya yang pertama kali menyapa pagi adalah saya dengan teriakan "Selamat pagi...." seperti yang saya lakukan di Pangrango dulu. 


Next!
Selesai shalat subuh berjamaah. Saya, TIfah, Mamduh, dan Iqbal mengambil posisi di depan kompor. Berharap menjadi penikmat kopi dan teh hangat pertama di pagi ini, dan mulai meracik menu sarapan. Tanpa sadar yang lain telah mengilang dari lingkungan tenda dan berpindah ke titik 2.211 mdpl  yang berada tidak jauh dari tempat kami.

Pose Cantik!!!
Sendal gunung Tifah yang ternyata dipakai oleh bang Peppy, membuat saya, Mamduh, dan Iqbal berinovasi membuat alas kaki dari kantong plastik yang ada. Tifah yang awalnya menolak keras, namun akhirnya terpaksa mengikuti saran kami bertiga. "Kalo nggak mau pake plastik, ya udah ga usah foto", itu ancaman kami pada Tifah.



- Iqbal, wife seeker - 
- Mamduh, Tukang gombal Gn. Salak -
- Tifah, model alas sepatu plastik -
- Shinta, yang punya blog -
- Abdan, katanya pendaki newbie tapi jadi Leader  -
Pria-pria kece di 2.211 mdpl - Salak 1
Selfie!!!
Sesi foto-foto selesai. Kami kembali ke tenda, dan melanjutkan masak-memasak yang sempat tertunda tadi. Tifah terpaksa 'meminum pil pahit' (ini kiasan) karena ternyata tidak ada teh hangat kali ini, semua teh sudah di campur susu bubuk, dan jadilah TEH TARIIIIIIIIIIIIK. 

Eh kalian sedang apa??
Berry hutan hasil pencarian Bang Peppy bersama jelly~
Pukul 9.30 pagi
Kami siap turun!!
Perut terisi, botol air mineral sudah terisi, sampah sudah terkumpul, packing selesai, kami akhirnya bersiap turun dari 2.211 mdpl.

Jangan lupa pose guys! (Bang Peppy menjadi fotografer)

"kelak kau akan kembali mengingat ku
pada suatu hari
di saat hujan menurunkan kenanganmu
berkali-kali" - tumblr

Lanjut!

Welcome Home [Part IV]


Jangan lupa!

Menggapai Puncak 2.211 mdpl

Kami Memulainya Dari Sini [Part I]

Perjalanan Ini [Part II]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar