Categories

Budaya (3) Cerpen (2) Cooking (1) Curhat (29) Curug (1) Famz Story (4) fiktif (3) Film (14) Foto (36) Hiking (30) Indonesia (80) INDONESIA BAGUS (7) Info (111) Islam (3) Jepang (7) Kampus (83) Kartun (1) Kids (2) Komputer (34) Kopdar (1) Korean Fever (14) Listing Program (8) Look Alike (10) Maen (28) Multimedia (9) Musik (3) Muslimah (4) Ramadhan (1) Review (16) SAR (2) Sekedar Tulisan (49) Shout Out (6) SI (53) Situs Bersejarah (2) Team Mandalawangi (1) Trip (33) Tugas (86) Untuk Negeri (76) Video (3) Wisata (11)

Kamis, 14 Mei 2015

[Catper] Papandayan & Impian Dua Tahun Silam..

Heihoo.... 
Selamat datang, silahkan masuk, sendalnya ga usah di lepas ya... Anggap aja rumah sendiri.. *buka pintu sambil senyum lebar melebihi kuda*

Ssst... Akhirnya saya ke Papandayan loooh!! Sedikit norak sih, tapi harap maklum ya. Papandayan punya daya tarik sendiri bagi saya. Sebenernya, impian asli ke Papandayan sih sama calon imam keluarga kelak, tapi karna sampai sekarang sang imam masih saja bersembunyi di belakang layar, saya belum bisa mewujudkannya. Hiks... #miris

Camp David, Papandayan
Ah iya, sebenarnya Papandayan adalah pengobat rasa sakit hati saya dengan rencana pendakian ke Gunung ini sekitar 2 tahun lalu. Beberapa hari sebelum keberangkatan kesehatan saya menurun, dan berakhir dengan perawatan di Rumah Sakit (padahal hanya karna tifus, sekalian check-up keseluruhan dan ternyata ada hasil rontgen tulang ekor dan punggung yang SEHARUSNYA di konsultasikan lebih lanjut, tapi sampai sekarang saya tidak pernah konsul kembali tentang hasilnya). Hehehe.. bandel...

Okey.. NEXT!

Awal rencana pendakian Papandayan sebenarnya tercetus begitu saja setelah saya dan Dimas dkk kulineran di Bogor. Kami memutuskan tanggal 8 Mei 2015 sebagai tanggal baik bagi isi dompet.

Jarum jam terus berputar, hari terus berganti, masa lalu masih sering teringat, masa depan masih terus menjadi  harapan. Kamu? Masih belum menjadi 'kita'.. #ciaaaaa #skip

Jumat, 8 Mei 2015
Jakarta - 19.30 wib

Saya, Mba Eka, Mba Bella, dan Mas Iwan yang kebetulan satu kantor berangkat menuju Kp. Rambutan menggunakan Trans Jakarta dari Shelter Bundaran Senayan, transit di Shelter Benhil - Semanggi, lalu transit kembali di Shelter BNN, dan sampai lah di Shelter Kp. Rambutan. 

Lalu mencari Mas Denis (teman sepermainan Mas Iwan a.k.a tuanya sama). Hahaha..

Intro : 
Mereka bertiga adalah rekan satu kantor dengan saya. 
Karena saya karyawan baru yang perlu banyak di bimbing, saya jadi sering mondar-mandir ke ruang Mas Iwan untuk memperbaiki laptop (lebih mirip mesin tik), iseng-iseng ngobrol tentang pendakian, dan akhirnya Mas Iwan tergoda untuk ikut. Horaaaay!!!
Sedangkan Mba Eka, kembali iseng membahas tentang pendakian karena Mba Eka sangat-ingin-mendaki gunung. Alhasil, Mba Eka pun tergoda, dan Mba Bella (sebut saja dengan kata BELIAU) adalah tetangga tempat kerja di kantor dan punya ketertarikan yang sama dengan Mba Eka mengenai pendakian gunung. So, I got theeeeeeeeeeeeem!!! 
Mas Denis? Mungkin karena Mas Iwan merasa kesepian, jadi Mas Denis di ajak. Usut punya usus usut mereka bertemu di Semeru. Eciyeee... Longlast ya... #loh?


23.15 wib
Kami berempat sudah berdiri di depan Bus Jurusan Term. Garut sambil menunggu Dimas dkk yang sebenarnya sudah sampai lebih dulu, tapi mereka kalah gesit untuk masuk ke Terminal. Dan tetiba dari kejauhan terlihat laki-laki bertubuh gempal membawa ceriel di punggung bersama 3 pria lain disekitarnya. Okay! Yang bertubuh gempal itu Dimas, 3 pria lain adalah Tomo, Arif Kibo, dan Ikhsan Beler. Saling berkenalan secukupnya, lalu kami bersembilan mulai memasukan ceriel ke bagasi bus dan memilih posisi duduk yang kami inginkan, mumpung bus masih kosong. Tepat pukul 23.30 bus mulai meninggalkan Terminal. Hampir semua yang naik bus tersebut adalah pendaki. Mungkin tujuan mereka adalah Cikuray dan Papandayan.  

Sabtu, 9 Mei 2015

Garut - 03.30 wib
Bus kami sampai di Term. Garut. Kami semua turun dan berpindah ke tempat ngetem angkutan menuju Cisurupan. Terjadilah nego harga dengan sang calo, dan Rp 20.000 per orang, TAPI harus 14 orang satu angkutan. Untungnya, ada 3 mas-mas dari Indramayu yang mengajak saya berkenalan (begitulah alur hidup para pendaki), so saya memulai obrolan dengan mereka dan mengajak mereka bergabung dengan kami. Masih kurang 2 orang lagi. 

Dan, saya memutuskan untuk meminta pendapat yang lain jika kami ber 12 membaya sisa kurangnya, bukan tanpa sebab. Tapi karena, 1. Kami sedang mengejar waktu, 2. Kami ber-12 pun mobil sudah sesak bagaimana ber-14? dan yang lain setuju! Okay. Kami harus membayar 40.000, dan saya tawar menjadi 35.000. Deal!

Cisurupan - 04.30 wib
Kami ber-12 memutuskan untuk shalat subuh dan beristirahat di Masjid sebelum melanjutkan perjalanan menuju Camp David. 

Masjid Agung Cisurupan
05.30 wib
Saya, Mba Eka, Mba Bella, Dimas, dan Arif Kibo memulai 'penggeledahan' pasar a.k.a belanja. Belanja makanan mentah yang masih kurang dan beberapa cemilan agar tidak boring. Sayur sop, tempe, ikan asin, mie instan (menulis makanan ini saya jadi malas), dan beberapa makanan lain. Kami kembali ke Masjid untuk membangunkan yang sedang tertidur lalu sarapan di warung nasi terdekat. 

Selesai sarapan, kami langsung mendapatkan pickup menuju Camp David. Rp 20.000 untuk 15 orang, dan SUDAH-LANGSUNG-JALAN. Dan, perjalanan yang sedikit menyakitkan untuk bokong (karena pemilik Pick up tidak menyediakan matras atau terpal sebagai alas duduk) pun dimulai. Bismillah.. 

Camp David - 8.30 wib
Setelah registrasi Rp 7.500 per orang, mobil pick-up yang membawa kami diperbolehkan masuk kawasan Camp. David. Dan, satu kata yang ada di isi kepala saya adalah RAMAI!.

Camp David - Kibo, Mba Eka, Saya, Mas Iwan, Dimas, Tomo, Mba Bella, Mas Denis, Beler
welcome
Buang air, repacking, ganti kostum, dan berdoa, kemudian kami memulai pendakian menuju Pondok Seladah. 

kami...
Kawah Papandayan yang sudah memanggil

Pasangan suami-istri yang saling berpegangan. Sang suami yang membantu istrinya saat kesulitan berjalan di bebatuan. (Romantisnya....)





Bau belerang sudah tercium di sini, namun tidak terlalu pekat, mungkin karena aktifitas kawah yang tidak terlalu aktif saat siang. Namun, panasnya membuat tenggorokan kering. So, siapkan air yang cukup ya. Tapi, treknya landai, dan hanya perlu hati-hati dengan batu yang di pijak, karena beberapa kali saya sempat hampir terpeleset.

Jalan pintas di Jalur gaza, Saya pun memilih jalur ini. hehehe... 
Beberapa langkah sebelum memasuki Pos pemeriksaan ke-2. "Hati Kaki adik lelah bang..."


Pondok Saladah - 11.30 wib
Akhirnya kami bersembilan berkumpul kembali, setelah tadi sempat berpisah di percabangan antara jalur landai (jauh) dengan jalur terjal (singkat). Mas Iwan dan Mas Denis memilih jalur terjal, sedangkan saya dan lainnya memilih jalur landai. Perbedaan waktu perjalanannya? Lumayaaaaan beda.

Setelah di cek surat ijin untuk kedua kalinya, barulah kami boleh masuk kawasan Pondok Saladah. Ohiya, jangan kaget kalau sampai disini masih ada yang berjualan. Anggap saja ini buper. (Tapi, tetap bawa kembali turun sampah kalian ya guys...!!).



Setelah mencari spot yang enak untuk didirikan tenda, dan segera memasangnya hingga tuntas. Tenda wanita yang paling cepat selesai!!! Horaay.. Shinta sudah pandai memasang tenda!!

"Membangun tenda saja aku sudah bisa.
Bagaimana membangun rumah tangga?
Lamar aku mas, sebelum adik lelah.."
Hahaha.. (SKIP!) sajak gagal!

Tatap mata bertemu, senyum malu-malu... Nah loooh!! Oh jadi gini..
Tenda sudah rapi dan lambung sudah meminta jatah untuk mendapatkan makanan. Kami pun segera memasak nasi, sop, dan tempe untuk makanan siang ini. Sedangkan untuk melanjutkan mencari pasangan puncak Papandayan kami putuskan besok saja, agar sekalian ke hutan mati dan tegal alun.

Di saat yang seperti inilah kami akhirnya saling mengenal pribadi masing-masing lewat semua obrolan yang kami bahas. 

Saya pun selalu menyukai sesi seperti ini, berkumpul di depan tenda masing-masing, masak bersama, berbagi dingin bersama, tertawa bersama tanpa rasa canggung, dan ditemani minuman hangat, semua itu mampu membuat saya melupakan penat yang ada di kepala dan sakit hati yang masih membekas dalam dada. Tanpa internet, tanpa gadget dan tanpa sebuah transaksi anda akan menjadi lebih menghargai arti kehidupan dan persahabatan.

"Jangan tanya mengapa aku menyukai pendakian dan jangan melarang ku untuk terus mendaki, mengapa tidak kau saja yang mencoba untuk ikut dalam pendakian hingga kau tau alasan ku melakukan ini."
 - untuk mu, yang masih terlena dengan kemewahan.

21.00 wib
Setelah sholat, dan merapikan barang-barang, kami semua masuk tenda masing-masing. Ahiya, langit Papandayan malam ini sangat indah, namun saya tidak sempat mengabadikannya. Langitnya penuh dengan bintang-bintang terang. Mungkin lebih dari 100 bintang yang terlihat kali ini. 

Dan, akan seribu kali lebih indah jika kamu memandangnya bersama orang yang kamu sayang dan menyayangimu juga, tepat di samping mu. *atuh, galau kieu geuning* hampura... 

Selamat malam Papandayan...


Minggu, 10 Mei 2015

Pondok Saladah, 08.30 wib
Selamat pagi...!!!
Sebenarnya saya sudah terbangun sejak subuh, dan sudah memulai memasak air panas untuk minum, usai solat subuh. Kali ini saya tidak terlalu menginginkan mengambil gambar matahari terbit seperti yang saya lakukan di Gunung lainnya, mungkin karena camp yang terlalu ramai. 

Menu pagi ini adalah macaroni + saus bolognaise, dan ikan sarden kalengan. Rencananya kami akan memulai pendakian ke Puncak Papandayan pukul 8, namun ngaret 30 menit.



Kami hanya membawa beberapa botol berisi air, cemilan, dan tas kecil berisi benda-benda penting lainnya). Treknya terus menanjak, sudut kemiringannya + 45° - 60°.



Jalannya basah, jadi agak licin. So, kamu harus berhati-hati pilih jalan. Ahiya, saat trek awal yang lumayan curam, kamu harus teliti mencari pohon atau akar untuk berpegangan dan menjadikannya penumpu tubuh saat naik, karena kalau salah bisa jadi kamu yang terjatuh atau terpeleset. Jangan terlalu banyak beristirahat, karena otot akan malas lagi setelah istirahat, dan jangan lupa untuk mengatur nafas agar tidak terlalu lelah. Terakhir, jangan lupa lihat kanan-kiri karena bisa jadi pemandangan indah ada di samping kamu. 

09.30 wib
Saya, Arif Kibo, Mas Iwan, dan Mas Denis sudah sampai lebih dulu di pertigaan antara puncak - tegal alun - pondok saladah (namun beberapa orang tertipu, menganggap tempat ini adalah puncak Papandayan). 

Yang penting pohon dan langitnya bagus.. 

Cek-cek jalur, tapi ternyata minim petunjuk menuju Tegal Alun, dan mas Iwan juga ikut lupa kemana arahnya. Alhasil, kami mengikuti rombongan lain, dan bandelnya lagi. Saat rombongan itu mengatakan jalur tersebut bukan menuju Tegal Alun, kami tetap penasaran dengan jalur ini, karena ada pita yang terpasang di jalur tersebut. (Okay, ini argumen saya).

Kami terus berjalan, berjalan, dan berjalan.. 
Dan ada padang Edelweis...!!! tapi BUKAN TEGAL ALUN...!!



Ini terlalu indah jika saya sebut tersasar. Tersasar ke tempat seperti ini, siapa yang menyesal? Kami memutuskan untuk istirahat sebentar untuk makan cemilan dan minum secukupnya (perbekalan kami menipis).

Kami kembali ke pertigaan tadi, dan mencari jalur lain. Akhirnya, kali ini kami menuju jalur yang benar, dan "SELAMAT DATANG DI TEGAL ALUN..."

Tegal Alun - 10.30 wib
Di sini, Tegal Alun, Gunung Papandayan akhirnya saya menuntaskan sebagian impian dua tahun silam. Yang seharusnya saya berdiri dan tersenyum di tempat ini, bukan tertidur di atas ranjang dengan aroma khas rumah sakit dengan selang infus terhubung dengan jarum yang tertancap di lengan kiri saya dan mengurus semua keperluan di rumah sakit, sendirian. 

Sekarang...
Bersama kalian, pendaki yang masih menghargai sebuah gunung dengan ketinggian rendah seperti Papandayan. Karena bukan angka dari ketinggian sebuah gunung yang menjadi tujuan, namun ada yang jauh lebih berharga dari itu. Sebuah persahabatan, sebuah perjalanan untuk kembali ke rumah, sebuah pencerminan diri, dan itu semua masih bisa didapatkan di Papandayan.

Keindahannya pun masih sama, Papandayan dengan kawahnya, jalur berbatu, lumpur, tanah, trek terjal dan landai, Papandayan dengan jalur yang jelas namun kadang membuat bingung dan menjadikannya tersasar.



Tegal alun benar-benar padang Edelweis yang paling luas bagi saya, Memang rasanya ingin menghabiskan waktu lama di sana, tapi kami tetap harus menghitung waktu agar tidak terlalu sore turn dari Papandayan.

Kita lagi latihan, tanteeeee..........

Mas Iwan dan 3 bidadari sebagai cammeo. "Mbo ya ngomong to' mas'e kalo mau foto tuuh"

Hutan Mati - 11.00 wib
Finally, tempat impian terakhir saya di Papandayan. Tempat terdramatis yang pernah saya datangi sampai saat ini. Bagaimana pohon ini hidup tanpa daun, air, dan tanah lembab? Itu tandanya Tuhan selalu memberikan makhluknya sebuah kelebihan dibalik sebuah kekurangan. Bukankah setiap kesulitan akan selalu ada kemudahan? dan Bukankah Tuhan tidak pernah memberi sebuah cobaan diluar kemampuan makhluknya? Ya, pokoknya begitulah ya.. Intinya, hutan ini tetap indah walau mereka terlihat mati.


Untuk kalian yang sangat menyukai foto pohon seperti saya, anda mungkin tidak pernah puas untuk mengambil gambar pohon di tempat ini. Memang semua pohon terlihat sama, namun mereka memiliki daya tarik yang berbeda beda. Mmmm... Foto Pasca Wedding di sini sepertinya menarik..!! (karena foto prewed masih belum boleh dalam pemahaman saya, kecuali jika ternyata calonnya kelak ternyata teman sependakian, dan tanpa sengaja foto berdua). hehehe.. #keplakKepalaBarbie *buka album pendakian gunung lain* Hahahaha...


Mereka sedang asik foto macro..

"Happy Birthday to Me.." (bukan tanggal 10 Mei kok)
12.30 wib
Kami bersembilan segera kembali ke Camp mengingat setelah ini masih harus sholat, masak cemilan siang (hanya sisa mie instan), packing tenda, dan turun dari Papandayan.

Terima kasih untuk kalian :
* Tuhan, yang telah menciptakan dunia menjadi indah.
* Mama & Papa yang terpaksa ngizinin anak perempuannya ini maen ke gunung lagi. (Gimana ga ngizinin wong izin sambil bawa ceriel di punggung dan siap berangkat)
* Mba Eka & Mba Bella, yang semakin membuat semangat karena akhirnya aku punya rekan mendaki perempuan lagi. 
* Mas Iwan & Mas Denis, yang selalu jadi leader untuk pendakian kali ini. Perhatikan rekan di belakang kalian sekali-sekali.
* Dimas, Ikhsan Beler, Tomo, Arif Kibo, yang selalu bisa bikin situasi nggak pernah garing. 
* Gustya, atas pinjeman gearsnya dan beberapa kali di repotin oleh bbm/wa/sampe didatengin ke rumahnya cuma untuk konsul Itenerary, share cost, dan menu makanan.
* Shanti, yang packingin ceriel sebelum berangkat dan ngingetin list barang yang kurang.
* Afrian & a Toto  yang udah minjemin gearsnya juga (hampir semua).



Berikut rincian biayanya :

* Term. Rambutan - Term. Garut        Rp 52.000
* Term. Garut - Cisurupan (elf)           Rp 20.000
* Cisurupan - Camp. David (pick-up)  Rp 20.000 
* Simaksi                                              Rp   7.500

More info : 
Line : tanyaShinta1
E-mail : shintasumabrata@gmail.com

Bonus :




 "Malam ini,
Langit kembali bermesraan dengan bintang
Seolah mengingatkan mu dan dia

Kamu adalah langit
Dia adalah bintangnya
Sedangkan aku?
Hanya bumi
Yang hanya mampu memandangmu dari kejauhan

Aku masih mengingatmu
Namun tidak sesering dulu"

Aku. Bumi.
Papandayan, 9 Mei 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar